Rabu, 21 November 2007

"Rasisme" Dalam Lelucon Sunda

"Rasisme" Dalam Lelucon Sunda
Oleh DJASEPUDIN

"RASISME" tak melulu mempersoalkan warna kulit atau rambut rintik. "Rasisme" tak selamanya berputar pada permasalahan fisik. "Rasisme" ada di setiap ranah. Adakah "Rasisme bersemayam dalam kehidupan masyarakat Sunda? Sejak kapan ia lahir? Lewat media apa ia bisa tumbuh dan berkembang? Dalam amatan penulis, setidaknya hal itu bisa kita rasakan dalam lelucon.

Pada umumnya, masyarakat kita masih menganggap humor sebagai suatu unsur budaya pop. Humor belum diakui sebagai bidang kreativitas tersendiri yang sebetulnya sama absahnya dengan ilmu pengetahuan dan seni sastra (Arwah Setiawan, Prisma, 1977: 82). Padahal humor bisa memengaruhi terhadap kehidupan kebudayaan (Ibing Kusmayatna, 1996: 20). Humor adalah sebuah sketsa vibrasi keluhan dan potret sosial masyarakat (bahkan juga situasi perpolitikan nasional). Ia menjadi satire, sebuah arena kegetiran yang coba ditumpahkan ke dalam fantasi senyum. Ia menjadi medan emphasis (tekanan) keseriusan untuk disatirkan (Hazmirullah, Pikiran Rakyat 2004).

Humor adalah sesuatu yang lucu, keadaan dalam cerita yang menggelikan hati, kejenakaan, dan lelucon (KBBI: 1997). Lelucon itu sendiri adalah dongeng-dongeng yang dapat menimbulkan rasa menggelikan hati, sehingga menimbulkan tertawa bagi yang mendengarnya maupun yang menceritakannya. Walaupun demikian bagi kolektif atau tokoh tertentu, yang menjadi sasaran dongeng itu dapat menimbulkan rasa sakit hati (James Danandjaya, 1991: 117).

Humor dalam kebudayaan Sunda dapat ditemukan dalam pelbagai aneka kesenian; seperti dalam carita pantun, wawacan, wawangsalan, wayang, longser, upacara adat, drama, tatarucingan, tembang, carpon, novel, pun dalam puisi dan tari. Pengertiannya sepadan dengan istilah heureuy, banyol, guguyon, lulucon, ogel, bodor, dan badud (Hidayat Suryalaga, 1996: 18).

Humor telah menjadi ciri orang Sunda (Enang Rokajat Asyura, 1996: 10). Salah satu ciri yang menjadi penandanya adalah pendapat dari Oey Eng Soe (Oejeng Soewargana) bahwa dalam keseharianya, orang Sunda terlebih dahulu menunjukkan giginya sebelum melakukan aktivitasnya (Usep Romli H.M., 1996: 13). Bahkan etnis lain di belahan Indonesia lainnya pun, disadari atau tidak, turut mengakui dan mengeksploitasi pendapat bahwa, orang Sunda itu identik dengan humor.

Apalagi jika melihat sejumlah media massa berbahasa Sunda mempunyai halaman khusus, dipersembahkan hanya untuk rubrik humor semata. Majalah Mangle, misalnya, menyediakan rubrik Carpon Lucu, Pangalaman Para Mitra, dan Ha..ha..ha. Tabloid Galura mempunyai rubrik Torotot Heong, menggantikan rubrik sebelumnya, Parkir Seuri. Dalam majalah Seni Budaya ada rubrik Bari Ngaronda Layow. Dan majalah Cupumanik pun mempunyai rubrik humor yang cukup menarik, Landong Baeud.

Dalam koran Galamedia Bandung, misalnya, setiap hari Sabtu atau minggu selalu menyuguhkan ruang humor dalam rubrik Sabulangbentor dan Ceuk Si Cepot, hasil racikan dari dua orang budayawan Sunda ternama, pada diri seorang pengarang, Taufik Faturohman dan seorang dalang kondang, Asep Sunandar Sunarya.

Dalam kepustakaan sastra Sunda antologi humor yang pertama terbit adalah Goegoejon (1922) karya Sastrawinata dan S. Goenawan yang diterbitkan oleh Commisie Voor de Volkslectuur. Lalu disusul dengan Dogdog Pangrewong (1930), karya G.S. Sebuah inisial yang hinggi kini belum terpecahkan siapa yang bersembunyi di balik nama tersebut, serta sejumlah buku lainnya seperti Landong Baeud (1937 dan 1986), Badingkut (1966 ) karya Oey Ing Soe (Uying Suwargana), Angeun Haseum (1966) karya M.A. Salmun, Buntut Oa (1964 dan 2002) hingga Sabulangbentor (2001) karya Taufik Faturohman.

Menurut Tatang Sumarsono, maraknya penerbitan kumpulan humor-humor Sunda, satu di antaranya adalah adanya anekdot di antara para pengarang Sunda sendiri bahwa, menerbitkan kumpulan humor jauh lebih menguntungkan daripada menerbitkan kumpulan cerpen atau puisi.

Tetapi, apakah humor-humor tersebut hanya diperuntukkan untuk pelepas suntuk atau dihadirkan hanya untuk penyegar suasana belaka, karena menurut M.A.W. Brouwer, orang Sunda dalam kesehariannya suka merelatifkan dunia, diri, dan surga serta selalu mencari segi humor dari apa saja yang dibicarakan (M.A.W. Brouwer, 2003: 3), ataukah humor-humor tersebut merupakan bagian dari manifestai jiwa kreatif orang Sunda dalam menyikapi keadaan (Ajip Rosidi, 1966).

p mengerikan jika humor-humor tersebut mengarah kepada sebuah bentuk "rasisme". Karena dampak sosial yang dihasilkan dari sebuah "rasisme" benar-benar riil dan jahat (Ania Loomba, 2003: 159). Bahkan menurut Harun Yahya (Adnan Oktar) munculnya zionisme pun asal-muasalnya dari gerakan "rasisme"

**

PENGERTIAN humor cakupan sangat luas, karenanya, tulisan pendek ini selanjutnya menitikberatkan pada sebuah bentuk humor suku bangsa (lelucon). Lelucon dan anekdot mengenai suku bangsa adalah dongeng-dongeng lucu tetapi bersifat menghina atau menertawakan bangsa atau suku bangsa lain (Danandjaya, 1991: 126). Lelucon itu sendiri menurut kirata (dikira-kira nyata) basa Sunda berasal dari kata lulucuan (bandingkan dengan karaton asal kata karatuan atau kamalayon asal kata kamalayuan)

Adapun pengertian "ras" adalah penggolongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik dan rumpun bangsa, warna kulit biasanya menjadi penanda utama dari identitas rasial (KBBI: 1997). Tetapi menurut Miles "ras" adalah realitas-realitas yang dibayangkan secara sosial dan bukan secara biologis. Sementara warna telah dianggap sebagai penanda utama dari identitas rasial, yang dibentuk oleh persepsi-persepsi adanya perbedaan religius, etnik, linguistik, nasional, seksual, dan kelas, (Loomba, 2003: 158). Senada dengan Ania Loomba, William A. Haviland mengatakan bahwa "ras" ada sebagai kategori budaya dan biologis (Haviland, 1999: 185).

Sastra Sunda pada umumnya menceritakan kehidupan manusia Sunda. Akan tetapi, karena manusia Sunda pun terlibat dengan manusia-manusia bukan Sunda, relasi-relasi tersebut tergambar pula dalam sastranya. Relasi-relasi inilah yang sering diwarnai dengan rasisme (Teddi A.N. Muhtadin, Pikiran Rakyat 2003).

Gambaran tentang lelucon rasis pernah dialami oleh Soeharmono Tjitrosoewarno (redaktur Pikiran Rakyat Bandung), orang Ngawi (Jawa) ketika beliau pertama kali menginjak tanah Bandung (Sunda). Beliau pernah diledek oleh orang Sunda dengan ungkapan Jawa koek maling apu, datang poek teu diaku (Jawa Koek mencuri kapur, datang gelap tak diakui).

Dari lelucon tersebut dapa tergambar bahwa objek sasaran rasis adalah orang Jawa. Yang menjadi penandanya adalah kata "Jawa Koek". "Jawa" mengandung makna satu letak geografis di sebelah timur dari Tatar Sunda (Bandung). Sedang "koek" diidentikkan dengan orang Jawa yang sedang mengembara di Tatar Sunda.

Untungnya lelucon tersebut hanya menimpa Soeharmono yang memiliki sifat jembar manah (besar hati). Soeharmono tidak mudah tersinggung, malah dengan ejekan yang diterimanya beliau semakin bersemangat untuk memperdalam bahasa dan budaya Sunda. Sebagai bukti, lelucon datang poek teu diaku ia plesetkan menjadi datang poek dipulung minantu, karena pada tahun 1959 beliau mempersunting wanoja Sunda sebagai teman hidup.

Jelas, lelucon rasis memang bersemayam dalam masyarakat Sunda. Lalu apa yang menjadi penyebabnya dan sejak kapan "rasisme" berlangsung dalam kehidupan Ki Sunda? Tentunya menjawab pertanyaan tersebut secara tepat memerlukan penelitian yang "ekstra khusus".

**

MENURUT William A. Haviland "rasisme" dapat dipandang melulu sebagai suatu masalah sosial. "Rasisme" adalah dokrin superioritas rasial, yang menyatakan superioritas kelompok yang satu atas kelompok yang lain. Munculnya "rasisme" disebabkan adanya perbedaan kelas sosial.

Menurut Miles, pembentukan kelas tersebut dilakukan dengan rasialisasi (Loomba, 2003: 165). Sedangkan menurut William A. Haviland, adanya kelas-kelas sosial tersebut melahirkan aneka rupa konflik, termasuk konflik rasial. Konflik rasial timbul karena dendam dan permusuhan yang lama tertekan.

"Rasisme" dalam lelucon Sunda tidak terlepas dari peran kolonialisme. Warisan kolonial ini menurut Benjamin G. Zimmer kemudian "dimoderenisasi" menurut wacana pembangunanisme Orde Baru. Bahkan menurut Mangunwijaya, kolonialisme merupakan musuh yang bersanding dengan Jawa masa lalu, pendudukan Jepang, dan Orde Baru (Sumarwan, 2004: 61).

Untuk mengekalkan kekuasaan kolonilaismenya Belanda menciptakan status sosial yang hierarkis berdasarkan ras. Masyarakat bumiputera menempati posisi terbawah. Berada di atasnya bangsa Timur Asing, Belanda menempati posisi yang utama. Sedangkan kedudukan Sunda dianggap lebih rendah daripada kebudayaan Jawa karena tidak memiliki warisan karya-karya tertulis. Jika Loomba menyatakan bahwa ras terkait dengan religi, etnik, linguistik, nasional, seksual, dan kelas maka dalam kasus ini berlaku pula "rasisme" yang terkait dengan sastra (Teddi A.N. Muhtadin, Pikiran Rakyat: 2003).

"Rasisme" dalam lelucon Sunda adalah buah ekspresi masyarakat Sunda dalam menyikapi tindak sewenang-wenang bangsa penjajah. Kesewenang-wenangan bangsa penjajah (Belanda) terhadap bangsa bumiputera, orang Sunda, dikukuhkan dalam bentuk stratifikasi sosial ciptaan bangsa penjajah terhadap bangsa terjajah (Sunda).

Di antara sekian guru utama pelanggaran atas prinsip-prinsip keadilan maka Belanda dapat ditempatkan sebagai mahaguru. Puncak dari semua perilaku menyimpang Belanda terhadap nilai-nilai dasar kemanusiaan adalah berupa legalisasi Bangsa Indonesia sebagai bangsa kelas kambing melalui trikotomi kewarganegaraan di awal abad ke-20 yang menempatkan bangsa kelas tiga di bawah Eropa dan Timur Asing (Reiza Dienaputra, 2004).

Adanya cerita "Perang Bubat" atau "Pasunda Bubat" semakin mengukuhkan bahwa Sunda itu memang berbeda dengan Jawa. Gajah Mada, Mahapatih Majapahit dianggap biang keladi tumpasnya para pembesar Sunda dan pengiringnya di Bubat, termasuk Diah Pitaloka atau Citraresmi yang hendak dijadikan permaisuri oleh Hayam Wuruk, nyatanya oleh Gajah Mada Citraresmi datang ke Majapahit dianggap sebuah upeti saja.

Orang Sunda selalu akrab dengan cerita ini dan mereka mengenangnya dengan marah dan geram. Cerita tersebut terutama memunculkan kesadaran bahwa mereka berbeda dari orang-orang Jawa, selain memunculkan sentimen anti-Jawa. Namun kesadaran akan perbedaan itu tidak pernah menjadi kuat sebelum Belanda lebih terlibat secara langsung dengan hubungan-hubungan lokal (Moriyama, 2001: 7).

Senada dengan Moriyama, Peristiwa "Pasunda Bubat" menurut Tedi A.N. Muhtadin, menyediakan lahan yang cukup luas bagi tafsir yang rasis dikemudian hari (Pikiran Rakyat: 2003). Lahan tafsir tersebut satu diantaranya bersemayam dalam ruang lelucon.

Lalu mengapa orang Sunda sepertinya begitu benci terhadap etnis lain, terutama melalui lelucon-lelucon rasisnya? Jika bangsa Indonesia oleh Reiza dikatakan sebagai bangsa kelas tiga atau kelas kambing, orang Sunda yang berada di bawah orang Eropa, Timur Asing dan Jawa, sudah tentu derajatnya sangat rendah.

Rendahnya kedudukan orang Sunda dibandingkan bangsa lainnya memunculkan perlawanan. Perlawanan tersebut dalam wacana poskolonial disebut mimikri. Pribumi peniru. Jika bangsa penjajah melakukan perlawanan secara terang-terangan karena didukung basis material yang mumpuni. Bangsa Sunda yang notabene kaum tertindas, dorongan materi yang tidak mencukupi, akhirnya melakukan perlawanan dengan cara peniruan dan dikembangkan dalam lelucon-lelucon rasis.

Hal ini sesuai dengan yang dilontaran oleh Teddi yang mengutif pendapat Hikmat Gumelar bahwa, "rasisme" mucul bukan hanya dominasi dari etnis yang suferior, "rasisme" pun lahir dari dukungan etnis yang inferior. Jika yang pertama menggunakan konsep "rasisme" agresif karena didukung oleh basis materi yang banyak, sedangkan yang kedua memunculkan "rasisme" defensif karena dukungan materinya sangat sedikit. Maka lahirlah lelucon-lelucon berbau rasis, seperti: mirigihisi stereotif untuk orang India; waas ku munuuna atau allaan taina stereotip untuk orang Arab; cing cuang cangcang atau tung tung sing stereotip yang melekat bagi bangsa Cina.

Adanya lelucon rasis tersebut mungkin bagi "si pengisah" (orang Sunda) sah-sah saja, karena efek lucu yang diharapkannya. Tetapi di balik kelucuan tersebut disadari atau tidak bersemayam "virus rasis". Tidak menutup kemungkinan orang (bangsa) yang dijadikan objek rasis merasa sakit hati. Dan tidak mustahil mereka akan mengadakan perlawanan. Baik melalui sembunyi-sembunyi memaupun secara terbuka.***

Tidak ada komentar: